Friday, 30 September 2016

Call of Duty: Infinite Warfare Ingin Seperti Modern Warfare

Gamer pasti tidak asing lagi dengan yang namanya Call of Duty (COD): Modern Warfare. Mungkin ini adalah sekuel game perang paling sukses sepanjang masa. COD: Infinite Warfare pun ingin mengikuti jejak tersebut.

Call of Duty: Infinite Warfare Ingin Seperti Modern Warfare

Jadi Infinity Ward selaku pengembangnya punya rencana untuk membuat COD: Infinite Warfare punya beberapa sekuel. Tujuannya adalah utuk mengulang kesuksesan COD: Modern Warfare yang memiliki tiga sekuel.

Infinity Ward mempercayakan pengembangan COD: Infinite Warfare salah satunya pada Taylor Kurasaki yang menjabat Director Narrative. Kurasaki sendiri sebelumnya bekerja di Naughty Dog dan ikut andil dalam pengembangan game fenomenal The Last of Us.

"Kami ingin (COD: Infinite Warfare) jadi judul yang benar-benar baru. Silsilah baru dari garis Call of Duty. Kami berusaha mengembangkan dunia permainan yang sangat baru, yang jauh dari kata membosankan," ujar Kurasaki kepada Polygon, seperti detikINET kutip dari Ubergizmo, Sabtu (20/8/2016).

Lebih lanjut, Kurasaki juga menekankan kalau dunia permainan yang diusung COD: Infinite Ward kelak mengambil seting di masa depan.

Belajar dari seri game Call of Duty yang biasa menggunakan seting perang dunia II, kemudian tiba-tiba berubah modern ketika COD: Modern Warfare hadir dan berhasil menuai kesuksesan, Kurasaki optimis kalau COD: Infinite Warfare akan bisa mencetak hal yang sama.

"Saya yakin bahwa tim Infinity Ward merasakan beban yang sama ketika mereka pergi dari Perang Dunia II (di seri COD) untuk perang modern (di COD: Modern Warfare). Ini seluruh dunia dengan senjata, kendaraan, ArtificiaI Intellegence, dan hal lainnya yang sama sekali baru. Kami melakukan hal-hal yang sama persis di sini (COD: Infinite Warfare). Ini seperti melakukan perubahan sebesar laut," imbuhnya.

Apapun itu pembuktiannya akan bisa dilihat pada 4 November mendatang. Sebab itu adalah waktu ketika COD: infinite Warfare dirilis ke publik. Apakah benar-benar bisa menyodorkan keseruan tak tergantikan bak COD: Modern Warfare? Kita buktikan saja.

Sunday, 25 September 2016

Apple yang Melempem di Paruh Awal 2016

Laporan dari Gartner membuktikan kalau pangsa pasar Apple mulai tergerus. Produsen Cupertino, Amerika Serikat ini semakin tergerus oleh kedigdayaan Android.

Apple yang Melempem di Paruh Awal 2016

Gartner mencatatkan kalau pangsa pasar iOS kini dilaporkan menurun. iOS yang di kuartal II 2015 berhasil mengamankan 14,6% pangsa pasar, sekarang harus rela tergerus menjadi hanya 12,9% saja di kuartal II 2016.

Analis lantas berasumsi kalau Apple sedikit demi sedikit mulai kehilangan penggemar. Hal ini berbalik dengan Android yang pangsa pasarnya meningkat jadi 86,2% di laporan kuartal II 2016 ini. Di periode yang sama tahun lalu, porsi penguasaan Android berada di angka 82,2%.

"Google sangat cepat melakukan pengembangan terhadap Android. Sehingga vendor-vendor yang mengandalkan OS tersebut selalu berada di puncak penggunaan teknologi untuk perangkatnya," kata Direktur Riset Gartner Robarta Cozza, seperti detikINET kutip dari GSM Arena.


Kondisi sama berlaku berdasarkan kategori produsen. Apple yang ketika kuartal II 2015 berhasil menggenggam pasar sebesar 14,6%, pangsa pasarnya melorot jadi 12,9% di kuartal II 2016 ini. Sementara pesaing terdekatnya Samsung mengalami peningkatan dari yang tadinya 21,8%, jadi 22,3%.

Analis bilang naiknya pangsa pasar Samsung lantaran ditunjang oleh Galaxy S7 dan S7 Edge yang terbilang moncer penjualannya. Sedangkan di sisi lainnya, Apple justru mengalami kejenuhan pasar karena konsumen cenderung menantikan iPhone generasi selanjutnya.

Diprediksi pangsa pasar Apple baru akan mengalami peningkatan di kuartal III 2016 ini, ketika penerus iPhone 6S diluncurkan.

Secara keseluruhan, Gartner memaparkan kalau ada lima besar vendor global yang mendominasi pasar ponsel dunia. Setelah Samsung dan Apple yang menempati posisi satu dan dua, Huawei mengisi peringkat tiga yang kemudian disusul oleh Oppo dan Xiaomi di posisi empat dan lima.

Kelima vendor ponsel ini disebut menguasai sebesar 54% pangsa pasar ponsel secara global.

Tuesday, 20 September 2016

Biru dan Silver Jadi Warna Favorit Galaxy Note 7

Samsung menawarkan menawarkan empat pilihan warna bagi konsumen yang ingin membeli Galaxy Note 7. Sayangnya, stok untuk warna tertentu terbatas.

Biru dan Silver Jadi Warna Favorit Galaxy Note 7

Dikutip dari Android Central, Samsung kehabisan stok warna Blue Coral dan Silver. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut tampaknya meremehkan permintaan pre order

Karenanya, mereka yang memesan menjelang sesi pre order ditutup, kemungkinan besar harus menunggu hingga tiga minggu untuk menerima handset di tangan mereka.

Kedua warna ini menjadi pilihan populer, karena banyak konsumen yang ingin ponselnya tampil segar, tak hanya berbalut warna hitam. Samsung pun mengomentari isu stok ini.

"Kami menerima pesanan di luar perkiraan dan kami bersemangat memenuhi pre order 19 Agustus. Dalam beberapa pekan ke depan, kami bekerjasama dengan mitra retail dan operator memenuhi ketersediaan," ujar Samsung.

Empat warna yang ditawarkan Samsung untuk pilihan Galaxy Note 7 adalah Black Onyx, Blue Coral, Silver Titanium dan Gold. Galaxy Note 7 menjual kecantikan desain, upgrade spesifikasi dan stylus yang makin canggih untuk memikat konsumen. (rns/yud)

Thursday, 15 September 2016

Allo Siap Susul Google Duo, Begini Stikernya

Setelah resmi merilis Duo beberapa hari lalu, sekarang giliran Allo yang siap dirilis Google. Bahkan stiker yang akan menghiasi aplikasi pesan instan itu juga sudah kelihatan.

Allo Siap Susul Google Duo, Begini Stikernya

Sekadar informasi, Duo adalah layanan video call besutan Google yang secara langsung menantang Facetime kepunyaan Apple. Sedangkan Allo menjadi bukti keseriusan Google yang ingin serius mendalami segmen layanan pesan instan.

Meski Android buatannya adalah OS paling populer di dunia dan banyak dimanfaatkan layanan pesan instan, sejak lama Google memang kelihatan tidak terlalu tertarik menggarap sektor pesan instan ini. Namun sejak diperkenalkannya Allo, strategi Google tampaknya berubah.

Lewat Allo, Google sepertinyan juga akan mengikuti tren yang berlaku di industri layanan pesan instan. Salah satunya adalah stiker sebagai pemanis dalam percakapan. Penampakan seperti apa stiker yang bakal hadir di Allo pun sudah kelihatan.

Google memilih karakter banteng di stiker perdananya yang kemudian dinamai Julio the Bull. Namun seperti detikINET kutip dari Engadget, Sabtu (20/8/20160, stiker Julio the Bull sifatnya masih sampel. Sehingga belum tentu Julio the Bull akan hadir ketika dirilis nanti.

Bicara layanan pesan intan, sama saja melihat potensi bisnis yang ada di baliknya. BBM misalnya, kini BlackBerry benar-benar melakukan monetisasi terhadap layanan pesan instan besutannya itu, seperti menyediakan channel eksklusif bagi perusahaan dan penjualan stiker.

Kemudian ada juga Line, layanan pesan instan asal Korea ini malah lebih pioner soal monetisasi stiker. Sehingga tak mengejutkan kalau Google pun mengikuti langkah yang telah ditempuh banyak penyedia layanan pesan instan itu.

Saturday, 10 September 2016

BlackBerry Gugat Vendor Ponsel Android

BlackBerry melancarkan gugatan pada salah satu vendor ponsel Android, yakni Blu Product. Blu dianggap melanggar paten perusahaan yang berbasis di Kanada tersebut.

BlackBerry Gugat Vendor Ponsel Android

Dikutip detikINET dari Digital Trends, BlackBerry mendaftarkan gugatannya di pengadilan Florida, Amerika Serikat. Blu sendiri adalah perusahaan ponsel yang berasal dari AS dan dikenal dengan produk smartphone Android harga murah.

BlackBerry menuding Blu melanggar sebanyak 15 paten BlackBerry. Di antaranya soal teknologi prosesor, power management, komunikasi mobile, dan lain sebagainya. Blu dianggap meraup keuntungan dengan memakai teknologi BlackBerry tanpa permisi.

BlackBerry mengklaim sudah mencoba menyelesaikan masalah ini secara damai. Mereka menawarkan kesepakatan lisensi dengan Blu, namun mengalami penolakan. Sehingga BlackBerry memutuskan menempuh jalur hukum.

"Meskipun BlackBerry sudah berupaya bernegosiasi, Blu terus saja menjual dalam jumlah cukup banyak produk yang menggunakan teknologi BlackBerry tanpa izin," sebut BlackBerry dalam gugatannya.

Belum ada tanggapan dari Blu soal gugatan itu. Yang jelas, BlackBerry belakangan giat melancarkan gugatan pada perusahaan yang dinilai melanggar paten teknologinya. Belum lama ini, mereka juga menggugat perusahaan teknologi Avaya ke pengadilan California.

BlackBerry memiliki sekitar 44 ribu paten yang cukup besar nilainya. Di tengah penjualan handsetnya yang terjun bebas, pendapatan dari paten semakin penting nilainya bagi BlackBerry.

Monday, 5 September 2016

Berseliweran di Twitter, Iklan LGBT Resahkan Netizen

Sebuah iklan yang mempromosikan layanan LGBT diketahui berseliweran di media sosial Twitter. Hal tersebut dianggap meresahkan.

Berseliweran di Twitter, Iklan LGBT Resahkan Netizen

Dari pengamatan detikINET, iklan bersangkutan mempromosikan aplikasi media sosial LGBT bernama Blued. Twitter sepertinya menayangkannya secara random dan biasanya muncul di tempat strategis, yaitu di posisi atas timeline.

Pengguna Twitter pun mengutarakan keresahan karena iklan tersebut ternyata cukup sering muncul. Terlebih promosi LGBT semacam itu dianggap tidak pantas untuk ditayangkan di Indonesia.

"Iklan Blued di mari semakin meresahkan warga Twitter," tulis sebuah tweet. "Ada yang tahu cara ngilangin iklan ini di timeline?" sebut yang lain.

Beberapa pengguna juga ingin membuat petisi untuk menghilangkan iklan tersebut. Ada juga yang berharap pihak berwewenang agar segera melakukan tindakan.

"Iklan Blued di mana-mana. Seriously, udah jadi topik banget nih. Menkominfo harus gerak," tulis seorang pengguna Twitter yang merasa terganggu.

Bukan kali ini saja jagat internet di Indonesia diresahkan oleh konten berbau LGBT. Belum lama ini, ada stiker LGBT berseliweran di aplikasi messaging Line sebelum akhirnya diblokir.

Saat ini, detikINET sedang berusaha menghubungi pihak Twitter terkait masalah iklan berbau LGBT tersebut.